News Update :


Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia



http://1.bp.blogspot.com/-x8dMA_tMBv0/Tocl1cofVVI/AAAAAAAABj4/z5huWXgEYOQ/s1600/www.alanhendrawan.com.gif

Dalam kesempatan yang baik dan mulia ini sengaja saya ingin mengajukan konsep pendidikan yang saya pandang “baru” dalam membangun manusia seutuhnya.
Dalam konsep “baru” tersebut terdapat sebuah penekanan yang mengedepankan aspek-aspek penting pendidikan, bukan terutama pada aspek intelektual dan professional, melainkan pada akhlak mulia yang menjadi tujuan pendidikan.

Pendidikan di Indonesia, dan bahkan juga di dunia, dijalankan secara parsial—atau, dalam ungkapan Slamet Iman Santoso, terfragmentasi, terkotak-kotak dalam spesialisasi dan kompartementalisasi, sehinga tidak pernah melahirkan manusia secara utuh. Pada pendidikan yang lebih mengedepankan aspek intelektual dan professional, akan melahirkan para ilmuan yang sangat rasional; namun, mereka kurang memiliki kekayaan spiritual, yakni akhlak. Sebagai akibatnya, mereka tidak menyadari bahwa di balik temuan-temuan yang dihasilkan, masih terbentang luas wilayah yang belum diteliti, belum dieksplorasi, karenanya belum diketahuinya. Melalui observasi, eksperimen, dan penalaran logisnya, mereka mendapatkan pengetahuan yang sempurna. Mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya masih terdapat sumber-sumber pengetahuan lainnya, yang tidak dapat dijangkau oleh instrument-instrumen ilmiah yang mereka agung-agungkan itu.

Berbeda dengan para ilmuan yang dilahirkan oleh pendidikan yang menonjolkan intelektualisme dan rasionalitas, ada sekelompok ilmuwan yang mengembangkan ilmuannya dari sumber lain berupa informasi yang berasal dari Kitab Suci dan suri tauladan (Sunnah) pembawa risalahnya itu, dua sumber yang sering kali dipandang sebelah mata oleh para ilmuan modern dan dicap sebagai epistem irrasional dan tidak ilmiah.
Sehari-hari, mereka melaui pembacaan teks, sejarah, dan pemikiran terdahulu melakukan kajian-kajian mendalam tentang berbagai aspek kehidupan ini. Kelompok ilmuwan kategori ini disebut sebagai kaum ulama yang terbedakan secara konseptual dan sosial dengan kelompok ilmuwan rasional dan intelektual, yang disebut cendekiawan. Ulama dipandang hanya membaca Kitab Suci, skripturalis, a priori, statis, normatif, berorientasi pada masa lalu, dan tentunya tidak realistis, disebabkan—secara epsitemologis— basis pengetahuannya tidak pada dunia empiris; sementara Cendekiawan lebih realistis karena basis pengetahuannya kokoh di dunia empiris. Dengan demikian ada dualisme ulama versus cendekiawan, dengan kesan miring dilekatkan pada yang pertama.

Perbedaan sumber kajian dari masing-masing kelompok yang berbeda tersebut, rasanya belum banyak orang yang berfikir untuk menyatukan dualitas kecendekiaan tersebut di atas dalam rangka melahirkan sosok ilmuwan yang lebih utuh, yakni ulama yang intelek dan profesional, atau intelek profesional yang sekaligus ulama. Gagasan penyatuan ini tentunya bukanlah sebuah ilusi, karena dalam sejarah—yakni sejarah Islam—telah banyak lahir ilmuwan yang menguasai kedua perspektif tersebut. Umat Islam, sampai hari ini, masih selalu membanggakan para ilmuwan muslim yang mereka pandang memiliki profil utuh, yakni sebagai ulama yang menguasai Kitab Suci, sekaligus sebagai intelektual yang berkecimpung secara intensif dalam aktivitas ilmiah, seperti seperti al Kindi dalam bidang filsafat, juga al Farabi, Jabir bin Hayyan dalam Ilmu Kimia, Ibnu Sina dalam Ilmu Kedokteran,Al-Biruni dalam Ilmu Fisika dan Kedokteran, Ar-Razai dalam Ilmu Kimia dan Kdokteran, al-Khawarizmi dalam bidang Matematika, Ibnu Haitsam dalam Ilmu Teknik dan Optik, Al-Ghazali dalam Ilmu Filsafat dan Etika, Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat, terutama logika, Ibnu Khaldun dalam Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial, dan masih banyak lagi. Mereka itu dikenal sebagai ulama cendekiawan, atau ilmuan muslim sejati yang tangguh.

Sebagai produk konseptual dari cara pandang yang terkotak-kotak terhadap keilmuan itu, yang kemudian melahirkan istilah dualistik: ilmu sekuler dan ilmu non sekuler, ilmu umum dan ilmu agama, dan semacamnya. Disebut sebagai ilmu sekuler atau ilmu umum manakala hasil-hasil temuannya mengesampingkan informasi atau nilai-nilai dari Kitab Suci, yakni Kitab Suci umat Islam yang disebut al-Qur’an. Sedangkan ilmu yang non sekuler atau ilmu agama atau ilmu Islami adalah ilmu yang mendasarkan pengetahuannya dari hasil kajian-kajian yang berasal dari Kitab Suci. Kedua jenis perspektif keilmuan ini, sesungguhnya, dalam pandangan Islam, sangat memungkinkan untuk disatukan dan bahkan—dari sudut pandang tertentu—sudah seharusnya menyatu atau integrated. Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal dengan sebutan ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah. Ayat-ayat qawliyyah adalah berupa al-Qur’an dan Hadits Nabi; sedangkan ayat-ayat kawniyyah (baik menyangkut taqdirullâh [hukum fisika] maupun sunnatullâh [hukum sosial-kemasyarakatan]) adalah berupa hamparan jagat raya (al-‘âlamîn) ini, yang bisa dikenali melalui observasi, eksperimen, dan penalaran logis itu. Baik ayat-ayat qawliyyah maupun ayat-ayat kawniyyah, keduanya, atau semuanya, adalah tanda-tanda Allah. Dalam perspektif ini, keduanya, kendatipun menggunakan pendekatan dan metodologi yang berbeda, tujuannya adalah mengungkapkan realitas, kebenaran, dan eksistensi Allah. Oleh karena itu, di aras yang paling tinggi, kedua tanda ini menyatu dan selaras.

Selanjutnya, konsep “baru” yang kami tuangkan dalam makalah ini, dan untuk dibahas dalam forum Silaknas ICMI kali ini, adalah sebuah pandangan keilmuan yang menjadikan ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah, kedua-duanya diposisikan sebagai sumber ilmu secara bersama-sama. Konsep ini sesungguhnya telah kami terapkan secara terbatas (yakni di Uin malang) yang selalu—secara bertahap—menuntut penyempurnaan.
Konsep yang kami tawarkan ini, jauh dari pretensi dapat dalam waktu singkat diimplementasikan dalam skala luas; namun, setidak-tidaknya kami akan memperkenalkan sebuah pandangan “baru,” yang entah pada suatu saat di masa mendatang dapat diterima oleh masyarakat luas dan dikembangkan lebih lanjut sebagai basis pembangunan beradaban baru melalui rekayasa keilmuan dan pendidikan.

KONSEP TAQWA DAN PENDIDIKAN AKHLAK MULIA
Selama ini istilah ”bertaqwa” telah menjadi kosakata yang masuk wilayah tata aturan bahasa formal dalam bernegara. Kita lihat misalnya berbagai persyaratan seseorang untuk menduduki jabatan formal di negeri ini dipersyaratkan yang bersangkutan memiliki kualifikasi bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kosakata ini jika ditelusuri asal muasalnya adalah diambil dari kitab suci al-Qur’an. Namun, kosakata itu telah menjadi Bahasa Indonesia, sehingga seringkali bahkan kehilangan makna yang sesungguhnya. Akan tetapi, apapun yang terjadi, bagi umat Islam, kosakata itu tetap dimaknai sebagaimana aslinya, yaitu masih merujuk pada kitab suci al-Qur’an.

Pada kesempatan Silaknas ICMI kali ini kami memperkenalkan kosakata—yang menurut kami—yang ”baru” yakni kosakata al-akhlâq al-karîmah. Lagi-lagi, kosakata akhlâq juga diambil dari Islam, yakni dari sumber Hadits Nabi, seperti dalam pernyataan Siti Aisyah yang menggambarkan akhlaq Rasulullah: كان خلقه القزآن, atau dalam Hadits yang sangat terkenal: إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق . Jika taqwâ lebih dekat dengan wilayah akidah atau tawhid, maka akhlâq sesungguhnya terkait dengan perilaku, karakter, atau watak seseorang. Oleh karena itu, di tengah-tengah bangsa yang sedang berusaha keluar dari berbagai problem yang menghimpit selama ini, tampaknya tepat sekali dimunculkan kesadaran bersama (semacam common flatform) agar memiliki komitmen bersama membangun akhlaq mulia di dalam kehidupan individu dan sosial-kemasyarakatan. Momentum ini menjadi lebih tepat, bila diykini bahwa berbagai persoalan bangsa tersebut sesungguhnya sebagai ”causa prima”-nya adalah lemahnya akhlaq ini. Berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh para pemimpin dan pejabat pemerintah dari berbagai tingkatan, berupa korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) adalah karena lemahnya akhlaq ini.
Selanjutnya, tatkala berbicara tentang akhlak mulia, maka agar tidak kehilangan makna yang sesungguhnya, maka seyogyanya dikembalikan pada sumber aslinya. Sebagaimana kosakata taqwâ, akhlâq juga berasal dari sumber Islam, yakni Hadits Nabi. Secara maknawi berbagai ayat al-Qur’an menjelaskan tentang akhlaq Nabi, atau sebaliknya, perilaku Nabi mencerminkan ajaran al-Qur’an. Bahkan, tujuan risalah Nabi adalah mewujudkan akhlaq mulia ini di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dengan denikian, apa yang dimaksud sebagai akhlaq mulia, tidak lain, adalah pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an ke dalam kehidupan sehari-hari. Akhlaq Rasulullah, adalah al-Qur’an itu sendiri, sebagaimana dikemukakan di atas. Oleh karena itu, tatkala ICMI mengintrodusir konsep ini dalam kerangka mengatur Negara dan Bangsa, maka hal ini sudah semestinya, sebagai cendekiawan muslim, memperkenalkan nilai-nilai mulia yang diyakini sebagai dasar untuk mengatur kehidupan yang lebih luas.

Sudah barang tentu, konsep ini memerlukan penjabaran dan sosialisasi. Pendekatan yang paling efektif adalah melalui pendidikan. Sementara ini, terkait dengan perilaku, tidak sedikit orang menyamakan akhlaq dengan moral, atau etika. Padahal, sesungguhnya masing-masing dari tiga kata tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Moral adalah bersumberkan dari nilai-nilai yang disepakati bersama oleh masyarakat. Berbeda dengan itu adalah etika. Etika berdasar pada pandangan hidup yang bersifat filosofis. Sedangkan akhlaq bersumberkan dari Kitab Suci. Sebagai muslim, maka tata pergaulan diatur oleh al-Qur’an dan teladan dari kehidupan Rasul, yang selanjutnya disebut sebagai Sunnah Nabi. Bertitik tolak dari pengertian ini, maka istilah yang lebih tepat digunakan—menurut hemat kami—adalah pendidikan akhlaq, bukan pendidikan moral, atau pendidikan etika.
Paradigma pendidikan yang berjalan selama ini terasa sekali menggunakan pendekatan rasionalistik dan positifistik. Pendidikan hanya sebatas didekati secara rasional dan dikembangkan atas dasar data empirik. Akibatnya, pendidikan berjalan secara mekanistik. Manusia diberlakukan bagaikan mesin, dan—lebih parah lagi—didekati secara birokratis. Kepala sekolah, guru, kepala tata usaha, dan juga murid, dikemas dalam sebuah sistem yang sangat terstruktur dan kaku. Padahal, manusia memiliki berbagai dimensi yang menuntut pengembangan secara khas dan luwes—bentuk perlakuan yang berbeda dari pola pengembangan manusia yang berbasis pandangan positivistik-empirik. Kehidupan manusia perlu space untuk berkreasi dan beraktivitas secara longgar. Oleh karena itu, pendidikan akhlak mulia, tidak begitu saja dan serta merta dapat dilaksanakan, akan tetapi sebelumnya harus dirumuskan pendidikan berparadigma al-Qur’an itu sendiri.

Mengikuti al-Qur’an, misalnya mengikuti Qs. Al-Baqarah, 2:29, dan mengikuti fungsi pendidikan Rasulullah, adalah bahwa pendidikan dijalankan melalui empat tahapan atau dimensi, yaitu mengajak melakukan (1) tilâwah, (2) tazkiyah, (3) ta’lîm dan (4) hikmah. Proses tilâwah adalah aktivitas untuk memahami fenomena jagad raya ini. Para anak didik diantarkan untuk memahami lingkungan sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Secara operasional, bentuknya mungkin, berupa pendidikan bahasa, berhitung, membaca dan menulis, serta pengetahuan lain, dari satu tahapan ke tahapan berikutnya dalam lingkup dan wilayah yang lebih luas. Mendidik sesungguhnya juga harus dimaknai mensucikan hati, ialah tazkiyah. Dalam kontek ini anak didik dijaga jangan sampai melakukan kebohongan, mengkonsumsi makanan yang tidak halal, diperkenalkan cara bersyukur, bersabar, ikhlas, dan istiqamah. Selanjutnya, anak didik diperkenalkan Kitab Suci dan juga tentang kearifan atau hikmah. Proses tazkiyah, pengenalan Kitab Suci— apalagi kearifan—adalah wilayah yang melampaui taraf rasional maupun positifistik. Dalam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, aspek ini melampaui kategori tujuan pembelajaran yang sangat terukur, atau sekurang-kurangnya bersifat laten, yang orang menyebutnya sebagai kurikulum tersembunyi (hidden curriculum); bahkan, mendidik lebih daripada sekedar mengajar, lebih daripada sekedar pertemuan rutin di kelas.

MENUJU ORIENTASI KEPADA KITAB SUCI YANG LEBIH UTUH
Jika misi utama kenabian Muhammad SAW, setelah meluruskan tawhid adalah membangun akhlaq mulia, maka semestinya pendidikan akhlak mulia tidak ada jalan lain, kecuali pintunya adalah Islam. Sedangkan sumber ajaran Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Kitab suci ini, al-Qur’an, dan as-Sunnah, dinyatakan sebagai petunjuk (hudan), penjelas (tibyân), pembeda (furqân), rahmah, dan bahkan obat (ashifâ’). Dalam sebuah hadits Nabi juga dikatakan bahwa: “Telah aku tinggalkan dua hal kepada kalian; kalian tidak akan tersesat selamanya manakala kalian memegang teguh keduanya; Yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi.”

Al-Qur’an sendiri, mengajarkan agar umatnya selalu membaca, baik ayat-ayat tertulis (al-maktûbah) maupun ayat-ayat yang terhampar (al-kâ’inat). Bacaan yang tertulis berupa al-Qur’an dan al-Hadits, sedangkan yang tidak tertulis berupa fenomena alam dan sosial yang terbentang luas, yang bisa dikenali melalui observasi, eksperimen dan penalaran logis. Sumber pengetahuan berupa ayat-ayat al-Qur’an disebut ayat-ayat qawliyyah sedangkan fenomena alam dan sosial yang dapat dipahami melalui kegiatan ilmiah itu disebut sebagai ayat-ayat kawniyyah.

Umat Islam sesungguhnya secara metodologis memiliki sumber informasi lebih sempurna bilamana dibandingkan dengan ilmuwan lain pada umumnya. Mereka memiliki sumber pengetahuan berupa ayat-ayat qawliyyah dan sekaligus ayat-ayat kauniyah. Hanya saja yang perlu dicatat, tatkala menggunakan ayat-ayat qawliyyah, ilmuwan Islam terjebak dan terbelenggu pada dimensi ritual. Mereka larut dalam perbincangan tentang tauhid, fiqh, akhlaq dan tasawuf serta sejarah tanpa berkesudahan. Sedangkan perbincangan fenomena alam dan sosial terbengkalai. Itulah akibatnya, kemudian, umat Islam menjadi tertinggal dari umat lainnya. Umat Islam memiliki kekayaan pengetahuan luar biasa, terkait dengan dunia spiritual, tetapi sebaliknya sangat miskin dari produk-produk kajian ayat-ayat kawniyyah.
Sebagai akibat selanjutnya dari orientasi seperti itu adalah umat Islam menjadi tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak saja Indonesia, negara-negara yang berpenduduk muslim dan bahkan yang mendeklarasikan diri mereka sebagai Negara Islam, berasaskan al-Qur’an dan as-Sunnah, pun mengalami ketertinggalan. Umat Islam, dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, masih berposisi sebagai konsumen, dan belum pada tingkat menjadi produsen. Memang, akhir-akhir ini ada kesadaran tentang itu, dan sudah cukup banyak anak-anak dari negeri muslim belajar ilmu pengetahuan dari negara maju. Namun, lagi-lagi, oleh karena fasilitas di negeri asalnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan belum tersedia, maka mereka berhijrah ke negeri maju untuk mengembangkan diri. Sebuah kenyataan yang seringkali menjadi kebanggaan umat Islam, dua ilmuan muslim yang mendapatkan hadiah nobel, yaitu Dr. Abdus Salam dan Dr. Ahmed Zawail, masing-masing meraih Hadiah Nobel Fisika dan Kimia, saat ini sedang hijrah dari Pakistan ke Inggris, dan dari Mesir ke Amerika Serikat. Mereka, sebagai ilmuan, tidak tumbuh dan berkembang di negerinya sendiri, tetapi di negeri Barat.

Selanjutnya, jika hal itu dianggap sebagai kekeliruan dan bahkan kecelakaan, ilmuan muslim selama ini terjebak pada sebuah kosakata, yang sesungguhnya jika dikaji secara mendalam sangat merugikan. Islam dipahami sebatas sebagai agama. Sebagai sebuah agama, sebagaimana agama-agama lainnya, seperti Hindu, Budha, Kristen, Yahudi dan lain-lain, memiliki lingkup yang amat sempit, yaitu hanya sebatas urusan ritual- spiritual. Padahal, Islam tidak sebatas tuntunan moral dan spiritual, Islam lebih luas. Bahkan, Islam berisi konsep tentang bangunan peradaban. Hal itu juga pernah dipertegas oleh H.A.R. Gibb, bahwa Islam tidak sebatas agama, melainkan sebuah peradaban. Islâm ad-dîn wad dawlah; Islâm ad-dîn wal ‘ilm wal hadhârah.

Oleh karena itu, tatkala berbicara mengenai Islam, namun kemudian hanya membatasi diri pada wilayah spiritual, tentulah tidak memadai (insufficient). Hanya sayangnya di dunia Islam sendiri, sampai-sampai lembaga kajian Islam sendiri, hanya membatasi diri pada wilayah persoalan-persoalan tauhid, fiqh, tasawwuf, akhlak, tarikh dan Bahasa Arab. Lebih dari itu, lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, juga merumuskan bahwa lingkup kajian Islam hanya terwadahi dalam beberapa fakultas seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syari’ah, Fakultas Adab dan Fakultas Dakwah. Pembagian seperti itu—disadari atau tidak—sesungguhnya akan melahirkan kesan, pandangan dan bahkan pemahaman bahwa Islam menjadi sempit dan terbatas. Anehnya, orang Islam dan bahkan mereka yang telah menjadi tokoh pun, berpandangan seperti itu.
Cara pandang terhadap Islam yang sempit seperti itu harus diubah. Perubahan itu semestinya dilakukan oleh kalangan internal, yaitu pihak-pihak yang selama ini memiliki otoritas dan berkecimpung dalam kajian Islam, seperti mereka yang berada di perguruan tinggi Islam. Akan tetapi, harapan itu rasanya bagaikan menunggu mata air di sebuah padang pasir. Sangat sulit sekali diharapkan. Berbagai alasan dikemukakan untuk mempertahankan format yang selama ini. Sampai saat ini, masih sulit memahami bahwa sesungguhnya Islam tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Alih-alih bersedia mengubah pandangan dari pemahaman yang terbatas itu, bahkan yang justru terjadi adalah upaya-upaya mempertahankannya. Islam dianggap hilang manakala, kelembagaan yang ada sekarang, seperti Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari’ah, Fakultas Dakwah, Fakultas Adab kehilangan peminat. Mereka berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.

Oleh karena itu, jika kita ingin melakukan perubahan, menjadikan akhlak mulia sebagai paradigma membangun bangsa yang lebih unggul dan beradab, hal itu hanya akan berhasil jika ada intervensi dari luar lembaga yang memiliki otoritatif kajian Islam itu sendiri, semisal ICMI. Melalui kekuatan ICMI yang sesungguhnya memiliki pakar dari berbagai disiplin, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam, maka mau tidak mau harus mengambil langkah-langkah strategis.
Dasar epistemologis yang digunakan cukup kuat. Selama ini, telah muncul pandangan dan keyakinan bahwa Islam menuntun agar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dilakukan secara utuh, yaitu bersumberkan pada ayat-ayat qawliyyah—al Qur’an dan al-Hadits—dan sekaligus ayat-ayat kawniyyah, yakni hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Kedua sumber itu harus dipandang sama pentingnya. Al-Qur’an juga mengajarkan agar setiap muslim mencari ilmu hingga sampai di negeri Cina. Melalui al-Qur’an, umat manusia disuruh untuk memperhatikan bagaimana unta diciptakan, bagaimana bumi dihamparkan, bagaimana langit ditinggikan, dan bagaimana gunung ditegakkan. Perintah seperti ini adalah sangat erat terkait dengan pengembangan sains yang bermanfaat untuk membangun sebuah peradaban.

Dasar-dasar membangun peradaban yang perlu dipelajari telah dikemukakan di dalam al-Qur’an, dan telah diimplementasikan dalam sejarah oleh umat Islam, misalnya dimulai dari peradaban yang diwujudkan pada masa Nabi Muhammad, yakni dalam konteks pembentukan masyarakat dan Negara Madinah. Al-Qur’an maupun Hadits, misalnya, menunjukkan penekanan yang kuat kepada tonggak peradaban, yakni ilmu pengetahuan dan ilmuan. Ilmu pengetahuan adalah software peradaban, sedangkan ilmuan adalah desainer. Mereka, dalam ungkapan sejarawan Arnold Toynbee, adalah para minoritas elit yang mempengaruhi perubahan. Peradaban, bagi Toynbee, adalah produk kreativitas mereka. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa banyak kasus dalam sejarah peradaban dunia yang kelompok minoritas, dengan kekuatan intelektualnya—atau teknologi intelektualnya—mampu mengalahkan mayoritas.

Dengan demikian, kelompok pakar ilmu pengetahuan yang tergabung di dalam ICMI, misalnya, dapat dipandang sebagai minoritas elit, yang jika mereka melakukan upaya-upaya perubahan sosial dalam rangka menciptakan peradaban Indonesia yang lebih baik dan unggul, maka akan sekaligus menunjukkan keunggulan cendekiawan-ulama di tengah-tengah masyarakat dan keunggulan Islam sebagai Doktrin dan Peradaban—meminjam istilah Nucholish Madjid. Pada lapisan yang paling dalam dari bangunan peradaban, sebagaimana disinggung di atas, dan merupakan pendulum peradaban, adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, yang—mengikuti perspektif al-Qur’an—tidak terfragmentasi atau tidak terpolarisasi dalam kategori ilmu agama-ilmu umum. Keduanya adalah satu, dan secara bersama-sama membangun peradaban dunia yang maju dan berujung pada keselamatan di akhirat.

METOFORA BANGUNAN ILMU YANG UTUH
Membangun akhlak mulia, tidak cukup hanya melalui pendidikan akhlak, lebih-lebih jika pendidikan hanya dipandag sebagai proses mekanistis pembelajaran, dan penekanan yang sangat kuat hanya kepada aspek intelektual-rasional, dan mengabaikan spiritualitas. Yang perlu disadari adalah bahwa akhlak mulia adalah sebuah produk dari proses panjang pendidikan, dalam rangka pembentukan kepribadian manusia yang utuh serta mencakup keseluruhan aspek yang terkembangkan secara seimbang dan fungsional. Proses itu melibatkan berbagai komponen, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah, termasuk komponen sistem pengetahuan yang diberikan kepada para peserta didik. Pengetahuan yang terpragmentasi juga akan melahirkan perilaku yang tidak utuh. Dalam konsep B.S. Bloom, disebutkan bahwa antara aspek kognitif, psikomotor, dan afektif harus dibangun secara terpadu. Pandangan itu, jika dimanfaatkan oleh umat Islam, harus disempurnakan atau diteruskan, hingga menjadi lebih utuh lagi, yakni bahwa pengetahuan yang bersumber dari wahyu—al-Qur’an dan al-Hadits—disempurnakan atau dipadukan dengan pengetahuan yang diperoleh dari kreativitas akal manusia, yaitu melalui metode ilmiah.

Hanya saja, dari pengalaman panjang selama ini, saya mendapatkan kesimpulan bahwa ternyata tidak mudah menggambarkan, ilmu yang tidak terpragmentasi itu. Betapa sulit menjelaskan posisi ”ilmu agama dengan ilmu umum” dalam bingkai kesatuan. Ternyata, tidak mudah sekedar mendudukkan secara gamblang antara ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah. Pada kenyataannya, pragmentasi itu tumbuh begitu saja, dengan sendirinya. Mereka yang mengembangkan ilmu pengetahuan bersumber ayat-ayat qawliyyah—al Qur’an dan al-Hadits—akan serta merta mengatakan bahwa ilmu yang benar, dan karenanya mampu mengantarkan umat manusia kepada kebahagiaan dunia sampai akhirat adalah al-Qur’an, dan itu pun kemudian direduksi menjadi sebatas ilmu Tauhid, Fiqh, Tassawuf, Akhlak, dan Tarikh itu.

Begitu pula, sebaliknya, menanamkan kesadaran dan pemahaman bahwa observasi, eksperimentasi di laboratorium, serta melakukan perenungan dan pemikiran, semua itu adalah bagian dari anjuran Islam, ternyata tidak mudah dilakukan. Buku-buku yang membahas tentang itu, dengan nama Islamisasi ilmu pengetahuan, integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum dan semacamnya telah banyak terbit. Demikian pula forum-forum diskusi, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya sudah sekian kali diselenggarakan, akan tetapi hasilnya belum memuaskan.

Secara saksama saya mencoba mengkaji dan memahami al-Qur’an, sampai saya faham bahwa ternyata kitab suci itu memuat informasi yang luar biasa luasnya. Al-Qur’an ternyata bicara tentang Tuhan, penciptaan, manusia dengan berbagai sifat dan ciri-cirinya, berbicara tentang alam beserta hukum-hukumnya, berbicara tentang makhluk baik yang dapat dikenali oleh panca indera maupun yang abstrak (ghayb), seperti malaikat, jin, dan setan. Al-Qur’an juga berbicara tentang jagad raya (kosmos, al-'âlam)), berbicara tentang bumi atau tanah (al-'ardh), matahari (as-syams), bulan (al-qamar), bintang (an-nujûm), air (al-mâ'), gunung (al-jabal), petir (al-barq), laut (al-bahr), binatang (al-'an'âm, al-bahâ'îm) dan tumbuh-tumbuhan (an-nabâtât), dan lain-lain. Al-Qur’an juga berbicara tentang keselamatan (an-najât, al-falâh), baik di dunia dan di akhirat. Keselamatan dapat diraih oleh siapa saja asal mengikuti jalan Allah (as-shirat al-mustaqîm), yaitu beriman, ber-Islâm dan ber-ihsân. Selain harus melakukan amal shalih serta berakhlakul karimah. Semua ini diterangkan dalam al-Qur’an maupun Hadis Nabi.

Berangkat dari pemikiran itu, sesungguhnya tidak akan sulit mengintegrasikan antara apa yang disebut dengan agama dan ilmu (sains) itu. Melalui al-Qur’an dan al-Hadis, akan diperoleh penjelasan dan petunjuk tentang alam dan jagat manusia, yang selanjutnya dapat dijadikan titik tolak (starting point) untuk melakukan eksperimentasi, observasi, dan juga kontemplasi. Demikian pula, hasil-hasil kajian ilmiah bisa digunakan untuk memperluas wawasan dalam rangka memahami kitab suci maupun Hadis Nabi tersebut. Cara berpikir seperti ini, mungkin dapat dijadikan sebagai pintu untuk melihat Islam dalam wilayah yang amat luas dan universal itu. Nasihat paling baik untuk ini bisa mengikuti apa yang dinasihatkan kepada Nabi Yusuf oleh ayahnya, seperti dalam penggalan Qs. Yusuf 67, yaitu:
وَقَالَ يَابَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ
(Dia menyerukan: wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk hanya melalui satu pintu; namun, sebaliknya, masukilah melalui berbagai pintu!)
Pintu-pintu yang banyak itu, menurut hemat saya, tidak lain adalah pintu-pintu ilmu pengetahuan dan teknologi—tanpa membedakan ilmu agama-ilmu umum—untuk menciptakan peradaban yang lebih unggul, baik peradaban intelektual-spiritual maupun peradaban fisik. Ilmu-ilmu pengetahuan itulah yang merupakan bahan dan faktor rekayasa yang paling dapat diandalkan untuk membentuk peradaban, persis seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah: ”Siapa saja menghendaki keunggulan duniawi, hendaklah dengan ilmu; siapa saja yang menghendaki kejayaan di akhirat, hendaklah dengan ilmu; dan siapa saja yang menghendaki keduanya sekaligus, hendaklah juga dengan ilmu pengetahuan.”

EKSPERIMEN UIN MALANG
Menghadapi problem epistemologi itu, melalui perenungan dalam waktu yang panjang, saya mendapatkan formulasi bangunan ilmu yang integratif dan terpadu, dalam bentuk metafora sebatang pohon untuk bangunan ilmu pengetahuan yang integratif itu. Sebagai sebuah pohon, tentu memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh, kemudian dahan, ranting, daun dan akhirnya menghasilkan buah yang segar. Metapora ”pohon ilmu” tersebut dicoba-terapkan di UIN Malang. Visi yang hendak diwujudkan adalah Islam sebagai ajaran yang sempurna, universal, dan berperspektif integratif dalam hal ilmu pengetahuan, tentunya mampu membentuk dunia yang juga bersifat sempurna dan utuh, setelah sebelumnya membentuk kepribadian individu manusia yang utuh pula. UIN Malang, sebagai lembaga pendidikan, difungsikan sebagai wadah dan alat transformasi kepribadian, melalui berbagai aktivitas pengembangan kepribadian, baik yang bersifat akademis maupun yang non akademis.
Penataan organisasional dan kultural dilakukan secara radikal, namun bertahap, mengikuti tingkat perkembangan warga UIN Malang yang tercermin dari bentuk-bentuk responsinya menghadapi setiap perubahan. Secara struktural, misalnya, UIN Malang membangun wadah organisasional untuk pembinaan mental spiritual serta pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits. Wadah tersebut berupa Lembaga Ma’had al-Aly Sunan Ampel, di mana mahasiswa diasramakan selamat satu tahun pertama masa perkualiahan mereka. Selain itu, untuk mendukung secara sistematik pemahaman yang lebih baik terhadap sumber-sumber ajaran Islam—al-Qur’an dan al-Hadits—UIN Malang membentuk lembaga PKPBA (Program Khusus Pembelajaran Bahasa Arab) yang kegiatannya bersifat wajib selama satu tahun bagi mahasiswa untuk belajar Bahasa Arab, karena bahasa ini merupakan alat utama memasuki khazanah dan kekayaan sumber ajaran Islam—al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan Bahasa Arab dan pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits, serta mentalitas, spiritualitas, dan moralitas yang cukup, mereka diharapkan secara intelektual salah memahami Islam, tidak salah mengamalkan Islam, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai mengalir dalam darah-daging fisik dan spiritual mahasiswa.

Secara organisasional juga, UIN Malang membentuk lembaga PKPBI (Program Khusus Pembelajaran Bahasa Inggris) yang mengemban visi dan misi perluasan dan pemerkuatan visi intelektual dan scientifik. Pendidikan akademik yang diterima mahasiswa melalui persentuhan dan pergulatan mereka dengan sumber-sumber belajar yang disediakan, mulai dari dosen, perpustakaan, laboratorium, adalah sarana pembentukan kekuatan intelektual dan profesionalisme yang akan mengusung mereka menuju kemajuan dan kemenangan di dunia ini. Bahasa Inggris—yang merupakan salah satu bahasa Internasional—adalah juga bahasa ilmu pengetahuan yang paling populer saat ini. Dengan PKPBI mahasiswa dipersiapkan untuk memahami bahasa itu dalam rangka mengakses ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi.

Perpaduan kedua visi-misi integratif melalui lembaga-lembaga (Ma’had al-Aly, PKPBA, PKPBI) tersebut terjadi pada keseluruhan kegiatan akademik di kampus UIN Malang. Lembaga-lembaga ini, pun, kami perkuat dengan berbagai lembaga atau unit penunjang, selain Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Lembaga Pengabdian pada Masyarakat, berupa Lembaga Kajian al-Qur’an dan Sains (LKQS), Lembaga Kajian Gender, Self Access Center, Pusat Penerbitan, dan banyak lagi lain-lain. Kami mermaksud menjamin keterpaduan semuanya itu dalam membangun individu yang kuat dan tangguh untuk membangun beradaban baru yang lebih unggul.

Persemaian nilai-nilai keilmuan dan kehidupan yang integratif secara bertahap semakin kuat, yang di depan sana (di masa depan) kita berharap generasi muda Islam akan mampu membentuk sebuah model peradaban Islam khas, yang tidak selalu mengacu kepada peradaban Barat. Kami berprinsip, sebuah peradaban yang berjangkauan luas dan besar dibentuk oleh peradaban yang lebih sempit dan kecil, sebagaimana peradaban dunia dibangun oleh peradaban komunitas dunia, dan peradaban komunitas dibangun oleh peradaban individual yang memadai. Dengan demikian, pendidikan dan lembaga pendidikan, bagi kami sangat penting dan memiliki posisi strategis dalam membangun masa depan peradaban Indonesia, peradaban Islam, dan peradaban dunia. Pesemaian itu sudah dengan jelas mulai menampakkan hasilnya. Mahasiswa dan dosen dari fakultas-fakultas ”agama” (Tarbiyah dan Syariah) menunjukkan perhatian yang luar biasa pada pengembangan ilmu pengetahuan, yang kita sebut sains itu. Sebaliknya, mahasiswa dan dosen dari fakultas-fakultas ”ulum” (Sainstek, Ekonomi, Psikologi, Humaniora dan Budaya) menunjukkan semangat mengkaji Islam yang sangat signifikan. Dosen-dosen, misalnya, sudah mulai menulis buku-buku sains Islam, atau yang berwawasan integrasi Islam dan sains modern, seperti matematika dalam al-Qur’an, fisika dalam al-Qur’a, Kimia dalam al-Qur’an, dan lainnya, tidak kurang dari 100 karya di bidang ini yang telah diterbitkan oleh UIN Malang. Mahasiswa jurusan/program studi di fakultas-fakultas umum cukup banyak tertarik mengkaji al-Qur’an dan masuk ke dalam lembaga Tahfizhul Qur’an.

Menurut hemat kami, peran ICMI yang lebih besar di masa yang akan datang, kiranya akan terwujud bila lembaga ini mengarahkan perhatian pada pendidikan, misalnya mendirikan lembaga pendidikan, atau mengawal lembaga pendidikan yang telah ada saat ini. Dengan demikian, ICMI sebagai kelompok minoritas elit di Indonesia—dengan kekuatan organisasional dan intelektualnya—mampu menjalankan peran besarnya dalam membangun peradaban khas Indonesia di masa depan. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Anda sedang membaca artikel tentang Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia dan anda bisa menemukan artikel Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia ini dengan url http://wawasanfadhitya.blogspot.com/2012/07/membangun-dunia-baru-melalui.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia sebagai sumbernya.

Share on :
Bookmark and Share
| | 0 comments



Artikel Terkait

0 comments:

Komentar di: Membangun Dunia Baru Melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan Berbasis Akhlak Mulia

Berkomentarlah dengan sopan dan pastikan komentar anda bukan spam. Komentar spam akan dihapus.

 

Page Rank Check

Technology Blogs